Dulu ketika SMA aku selalu berharap cepat lulus sekolah lalu kuliah di kampus yang aku idamkan. Karena ku pikir dunia perkuliahan itu menyenangkan. Namun faktanya ini sungguh rumit. Tak senikmat apa yang aku pikirkan masa itu. Tugas bertumpukan, jadwal kuliah bertabrakan, kuis dadakan, tuntutan untuk aktif dikelas, hingga tuntutan untuk menyeimbangkan diri dalam kehidupan Hedon yang ada di kampus. Ya karena mayoritas Hedon sudah mewabah disebagian mahasiswa, bahkan maba sekalipun.
Sebelum aku benar2 menjadi Mahasiswa disebuah Universitas Swasta Terbaik di Indonesia ini. Aku pun sempat berjuang untuk dapat masuk ke Universitas Negeri.
Namun apa boleh dikata. Mungkin memang nasibku ada di kampus ini. Aku kuliah dengan jurusan yang sebelumnya tak pernah aku pikirkan. Bahkan mungkin aku tak berminat dengan jurusan ini.
Namun dengan dorongan kakak, ibu, dan keluarga akhirnya aku mengambil jurusan ini. Dan ternyata aku lolos dan benar benar mendapatkan gelar mahasiswa baru Fakultas Hukum Jurusan Ilmu Hukum. Meskipun dalam hati aku masih belum sepenuh hati menjalaninya. Namun aku berusaha menerimanya. Karena mungkin ini yang terbaik. Pikirku saat itu.
Disini aku banyak mendapatkan teman, dengan berbagai sikap dan sifat mereka, aku banyak belajar dari mereka tentang kehidupan dalam perkuliahan dan kehidupan diperantauan. Mereka mengajak untuk aktif ikut diskusi sana sini meskipun aku belum pernah berani ikut berargumen didalamnya. Diajak untuk mencintai buku, diajak untuk suka membaca, dan sebagainya. Diajak untuk jatuh cinta terhadap alam. Diajak belajar bersama, belajar dan belajar. Hingga diajarkan untuk dapat hidup dengan segala konflik diperantauan dan cara menyelesaikannya. Diajarkan untuk dapat berteman dengan siapa saja, dan mereka berhasil membuat aku yang bukan tipe orang gampang kenal menjadi orang yang lebih bisa membuka diri untuk kenal dengan orang baru.
Namun aku adalah aku.
Dengan keras kepala yang tak kunjung berubah.
Dasar Bocah!
Kawan-kawan yang ada bersamaku sudah menjadi kawan yang tepat. Kegiatan yang mereka kenalkan padaku adalah kegiatan yang baik untuk diikuti. Apa yang mereka ajarkan seharusnya dapat menjadi pancingan supaya aku dapat lebih tertarik dengan jurusan yang sekarang sedang aku geluti ini. Mereka banyak mengajarkan kesederhanaan dalam berteman dan berkeluarga diperantauan. Aku senang ada diantara mereka. Tapi kenapa kamu tidak senang dengan kegiatan yang mereka ajarkan? Kenapa?
Dulu kamu suka membaca apa saja, kenapa sekarang kamu malas membaca?
Dulu kamu aktif diskusi dikelas, kenapa sekarang berpendapat saja tidak bisa?
Dulu kamu berani berbicara didepan banyak orang, kenapa sekarang kamu merasa tidak mampu?
Kamu ini kenapa sih?
Dannnn okayyy jangan terlalu panjang bercerita. Kembali ke konteks salah jurusan.
Dulu aku berharap aku kuliah di jurusan akuntansi karena nilai Ekonomi Akuntansiku semasa SMA selalu bagus dan tinggi.
Atau jurusan Psikologi, karena memang aku banyak tertarik dengan jurusan tersebut.
Namun ternyata selama beberapa kali seleksi kedua jurusan itu tidak satupun yang meloloskan aku. Hingga akhirnya dengan kepasrahan aku menuruti apa yang Kakakku ucapkan untuk mengambil Jurusan Hukum.
Dengan niat yang sangat sedikit akhirnya aku mendaftarkan 2 prodi. Pilihan pertama Psikologi dan pilihan kedua Ilmu Hukum.
Dan bummmmmmmmm!!!!
Aku lolos dipilihan kedua.
Saat aku melihat itu aku bingung. Harus senang atau tidak karena sudah lolos seleksi. Dijurusan yang sama sekali aku belum minat. Atau mungkin tidak minat sama sekali. Hehe.
mungkin, krena itu juga aku jadi tidak sepenuh hati untuk belajar dalam perkuliahan. Masih setengah2 untuk melanjutkan kuliah di jurusan ini. Ingin rasanya aku ganti jurusan. Pindah kampus. Pokoknya jangan jurusan ini.
Tapi balik lagi.
Aku ingat ucapan kakakku yang menyuruhku untuk mengambil jurusan ini.
"Kamu udah lolos Jurusan Hukum, Kuliah yang bener, Jurusan sesuai sama sikap kamu yang suka mengomentari kehidupan politik diindonesia, biar kamu lebih paham tentang hukum yang sering kamu bicarakan atau kamu tonton di televisi. Biar besok kalo kamu debat sama masmu ini bisa nyambung karena sama-sama sarjana hukum. Kampusmu kampus yang bagus fakultas hukumnya. Jadi jangan disia-siakan."
Yaaa kalimat itu merupakan salah satu kalimat yang aku pertimbangkan untuk tetap bertahan dengan jurusan ini.
Yakali gak bertahan.
Masih semester 1 Woyy!!!!
Tapi setelah semester satu hampir berakhir. Aku jadi kepikiran lagi kalo aku emang bener bener salah jurusan. Kenapa?.
Karena nilai mata kuliah ku tidak memuaskan. Nilaiku memang Lulus semua. Namun aku tidak puas dengan capaianku ini. Nilai B banyak menghiasi Akun mahasiswaku.
Mau remed mahal.
Sayang uangnya.
Mending buat jajan.
Mending buat ngimbangin hidup dengan kehidupan hedon diperantauan.
Tapi teman-temanku mengajarkan untuk sederhana dan apa adanya.
Jadi uangnya mau buat remed aja kalo gitu.
Nilai B bukan akhir.
Tapi berhasil membuat sedih yang tiada akhir.~
Apalagi nilaiku ada yang dapat C semakin lah aku pesimis untuk tetap bertahan dengan jurusan ini. Apa iya aku segoblok ini, sebego ini. Sampai sampai dapat satu nilai C.
Pikiranku merambah dan mampu membuatku gundah. Antara dilema dan tidak nyaman. Kalau aku bilang bahwa aku ingin jurusan baru apa boleh. Apa diizinkan.
"Udah kamu kuliah yang bener, kalo uang abis bilang aja, nanti ibu transfer. Jangan lupa setiap hari harus makan buah biar sehat ya. Jangan mikirin uang kuliah, uang jajan, uang kost segala macam. Kalo abis minta aja sama ibu ya. Pasti ibu kirim. Atau minta ke mas-mas mu pasti dikasih." ucap sesosok malaikat yang diberikan Allah untuk menjagaku.
"Jangan Lupa berdo'a buat almarhum bapak ya. Ibu kerja keras buat kamu, biar kamu bisa jadi sarjana kaya ke-4 masmu. Meskipun bapak udah nggak ada. Yang penting kamu juga harus jadi sarjana. " kalimat kalimat itu berhasil menjadi cambuk yang membuat airmataku jatuh.
Lalu apa yang harus aku lakukan?
Bertahan dalam jurusan yang tak sesuai dengan keinginanku dan berusaha mencintai jurusan ini.
Atau mengadu pada keluargaku bahwa aku ingin pindah jurusan saja yang sesuai dengan aku.
~
Komentar
Posting Komentar